Cerita yang akan aku tulis ini sebuah kejadiannya dari sifat salah seorang teman ku. Namun didalam cerita ini akan aku samarkan nama pelakunya tersebut.
Jeny, aku mengenal sosok Jeny kurang lebih dua tahun yang lalu. Aku mengenal Jeny dari salah satu temanku, sebut saja namanya Fitri, yang menurut Fitri dia adalah teman dekatnya di kampus. Jeny yang aku lihat pertama kali seperti orang yang berperilaku baik, namun ada satu sifatnya yang kurang baik dikala itu. Yaitu, dia sebagai wanita perokok berat. Tapi aku baru benar benar mengenal karakter dan sifat Jeny dalam kurun waktu enam bulan belakangan ini. Lama tidak bertemu, ternyata dia sudah memilik sifat yang aku rasa benar benar buruk. Ternyata si Jeny sudah menjadi wanita penikmat alkohol dan obat obatan. Memang kaget kala itu aku melihat dia.
Aku sempat perfikir heran, apa yang dia lakukan sekarang ini?, segala macam jenis obat obatan disikatnya dengan penuh nafsu. Tidak ada kompromi dengan segala jenis obat. Entah apa yang ada didalam otak dan fikirannya aku tidak mengerti. Kemudian aku menghubungi teman ku yang bernama Fitri, aku ceritakan semuanya tentang Jeny. Dia pun terheran, seolah tak percaya apa yang aku ceritakan.
Setelah aku mengenal sifat dan karakter Jeny yang sekarang ini, aku sudah tak ada simpatik dan keinginan untuk berteman kembali. Karena bukan hanya soal dia mengkonsumsi alkohol dan obat obatan, yang membuat aku enggan untuk berteman. Diluar hal itu, Jeny sendiri memiliki sifat pembohong menurut aku. Semua ucapan dan fakta selalu berbeda. Dan selalu menyusahkan jika bermain dengan dia, karena Jeny selalu tidak mau pulang jika waktu sudah larut malam. Teman teman ku yang lain pun sampai dibuat kelimpungan dengan sifat dia yang seperti itu. Bagaimana mungkin seorang wanita, tidak mau pulang ke Rumah dikala waktu sudah hampir subuh. Itu jelas jelas sangat menyusahkan.
Dan belum lama ini aku baru mengetahui sifat yang nyata dan bahkan teramat buruk menurut ku. Ketika itu aku dan teman ku mengantarkan Jeny yang dalam keadaan mabuk untuk pulang kerumah. Tapi aku baru mengetahui ternyata Rumah yang selama ini diakui oleh Jeny adalah bukan Rumahnya. Aku baru mengetahui hal itu dari salah satu teman ku yang ikut mengantar Jeny pulang. Memang kami setiap mengantar Jeny pulang selalu sampai depan pagar, dan Jeny selalu menyuruh kita untuk segera pergi setelah dia sampai di depan pagar, dengan alasan takut orang tua nya keluar. Setelah aku pikir pikir ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh salah satu teman ku itu. Dan akhirnya setelah mengantarkan Jeny turun dan persis berada didepan pagar Rumah yang selalu dia akui, kami semua bergegas untuk pergi dari sana. Namun setelah aku dan teman ku mulai agak menjauh dari Jeny, kami semua memutuskan untuk membuktikan perkataan dari salah satu teman ku. Dua orang teman ku keluar dari dalam mobil untuk mengintip dari ujung gang, aku tetap berada didalam mobil bersama seorang teman ku. Kemudian dua orang teman ku yang mengintip dari ujung gang pun, telah kembali masuk ke dalam mobil. Dan ternyata benar, kalau Rumah besar yang biasa diakui oleh Jeny itu adalah bukan Rumahnya. Menurut dua orang teman ku yang tadi memata matai Jeny, dia mengatakan jika Jeny masih terus jalan lebih dalam ke arah gang yang lumayan kecil. Aku pun terheran, sejenak berfikir tentang apa yang ada didalam otak si Jeny. Kenapa dia juga harus berbohong dengan tempat tinggalnya. Apa tempat tinggalnya kecil atau buruk?, sehingga dia malu untuk menunjukan kepada teman temannya.
Kita sebagai mahluk hidup, sudah sepantasnya selalu bersyukur dengan segala karunia yang diberikan oleh Tuhan. Karena masih banyak orang yang kurang beruntung dari pada kita. Tidak usahlah malu atas apa yang sudah dimiliki. Tapi malulah jika selalu berbuat kesalahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar