Kau yang sangat paham dengan teori cinta: mencintai, mengasihi, dan memberi segalanya termasuk kesabaran. Tapi sesunguhnya kau kurang fasih dalam menerapkan peraktik. cinta. Begitu mudah melepas, begitu mudah perpaling, dan begitu mudah menghapus.
Ya, aku bisa saja berbuat apa yang telah kau lakukan sekarang ini. Tapi itu bakanlah "aku" ya, aku tidak bisa dengan mudah membuang semua memory-memory Indah. Yang aku tau, definisi cinta itu: "mampu atau tidaknya. seseorang menjaga keutuhan cinta, sekalipun mendapat kekecewaan yang mendalam".
Kadang ada yang mengatakan "Cinta tidak harus memiliki" ya, itu tidaklah salah. Tapi menurutku itu cuma berlaku untuk orang-orang yang berputus asa. Kenapa aku bilang itu orang-orang putus asa?. Jika dia tidak bisa mengejar cintanya, percayalah cepat atau lambat dia akan melupakan dan berpaling. Tapi sudahlah, ini semua tak lepas dari kesalahanku. Kejarlah semua hal yang kau "cinta". Jangan mudah untuk kau lepas kembali. Kejarlah, kejarlah!!. Jangan pernah lelah untuk mengejar.
Tapi entah mengapa, keyakinan tentang ekspektasi ku kepada delapan, amat teramat besar. Saat surat ini aku tulis. Aku yakin, cinta delapan untuk ku masih sangatlah besar. Jika secara kasarnya "kau hanya mencari pelarian". Kau cari pelarian karena kau telah tertipu dengan semua kepura-puraan ku. Pura-pura tak mencintai mu, pura-pura membenci mu, dan pura-pura melupakan mu.
Maaf jika praduga ku salah dalam menerka. Namun, jika praduga ku ini benar. Aku mohon dengan sangat kepada. delapan: katakan jika kau memang cinta, berharap, dan menginginkan aku. Ayo! Kita keluar dari kepura-puraan ini sebelum semua terlambat lebih jauh.
Manusia tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi setiap detik, setiap menit, setiap jam, dan setiap harinya. Semua penuh mister dan teka teki yang sulit untuk dipecahkan.
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 26 November 2011
Senin, 21 November 2011
Kisah Indah Dan Kisah Sedih di GBK
Sepak Bola mempertemukan aku dan dia. setelah beberapa bulan komunikasi diputus oleh seorang mantan. Nada SMS masuk berdering dari sebuah telepon genggam. Isi pesan SMS itu cukup membuat aku terkejut. Kurang lebih pesan itu berisi "Halloo Randy Prasatya apa kabar? ". Sejenak aku terdiam dan berfikir dengan banyaknya pertanyaan yang muncul didalam kepala. "Kenapa dia nanya kabar gw? Apa iya, dia kangen sama gw?". Kemudian bergegaslah aku ke toko penjual pulsa. Karena aku tau, aku tidak mempunyai pulsa untuk membalas SMS tersebut. Setelah pulsa terisi, aku membalas dengan isi "Hai, Windy Melodya Listyanti!!
Kabar saya sangat baik, karena Indonesia masuk Final. Windy apa kabar?". Singkat cerita isi percakapan via SMS. Ternyata dia hanya ingin minta tolong untuk dicarikan dua tiket Final Sea Games cabang olahraga sepak bola. Dan aku menyanggupinya, meskipun aku tahu jika dia tidak akan menyaksikan partai final bersama-sama dengan-ku.
Aku jemputlah dia dikampus tempat dia menuntut ilmu dan aku menunggu ditempat biasa ketika aku masih menjalin sebuah hubungan yang sangat SPESIAL. Sesampai di GBK, tiket yang aku janjikan untuk dia, ternyata tidak ada, yaa, calo menjadi alternatif terakhir. Kurang lebih hampir dua setengah jam kita berdua mencari tiket untuk menyaksikan partai final. Namun tidak ada satupun tiket yang harganya terjangkau oleh isi dompet. Aku lihat wajahnya telah penuh dengan keringat. Sebetulnya aku mau untuk menyeka keringat yang sudah mulai membasahi wajahnya. Tapi, aku tidak mau terlihat jika aku peduli dengan dia. Yaa, aku tidak mau dia tahu jika aku PEDULI dengan dia.
Waktu hampir menunjukan pukul 16.30 itu pertanda kekasih barunya akan segera tiba. Aku terus mempercepat jalan dan melihat kanan kiri mencari keberadaan para calo tiket. Tapi tetap tidak ada satupun calo tiket yang harganya bersahabat. Disaat itu pula, kekasih barunya menelfon dan menanyakan keberadaannya. Jelas aku kesal, karena itu pertanda kebersamaan aku dan dia akan segera selesai. Kemudian aku mengantarkannya menuju salah satu Mall yang berada disekitar GBK, namun tanpa selembar tiket.
Kami berdua berpisah. Dan pada saat itu rasanya aku ingin sekali membawa pergi dia sejauh mungkin, hingga kekasih barunya tak bisa menemukannya. Tapi itu mustahil, karena aku tahu jika dia tidak lagi memiliki perasaan seperti dulu. GBK semakin gelap, dan antrian pintu masuk makin tak karuan. Akupun terus bertanya pada diriku sendiri "dia udah masuk dan duduk manis, belum yaa?". Aku terus bergelut dengan ratusan penonton yang ingin masuk melalui pintu VII. Dan setelah sampai pada tempat duduk yang nyaman, aku coba memutar pandangan mata kesetiap tempat duduk untuk mencari keberadaannya. Namun, sangat sulit karena belum tentu aku dan dia berada dalam satu sektor yang sama.
Aku senang GBK bisa mempertemukan aku dan dia kembali. Tapi aku sedih GBK juga memisahkan aku dan dia kembali.
Dan aku akan terus mencintai dia, meskipun itu Gak Penting-Penting Amat menurut dia.
Kabar saya sangat baik, karena Indonesia masuk Final. Windy apa kabar?". Singkat cerita isi percakapan via SMS. Ternyata dia hanya ingin minta tolong untuk dicarikan dua tiket Final Sea Games cabang olahraga sepak bola. Dan aku menyanggupinya, meskipun aku tahu jika dia tidak akan menyaksikan partai final bersama-sama dengan-ku.
Aku jemputlah dia dikampus tempat dia menuntut ilmu dan aku menunggu ditempat biasa ketika aku masih menjalin sebuah hubungan yang sangat SPESIAL. Sesampai di GBK, tiket yang aku janjikan untuk dia, ternyata tidak ada, yaa, calo menjadi alternatif terakhir. Kurang lebih hampir dua setengah jam kita berdua mencari tiket untuk menyaksikan partai final. Namun tidak ada satupun tiket yang harganya terjangkau oleh isi dompet. Aku lihat wajahnya telah penuh dengan keringat. Sebetulnya aku mau untuk menyeka keringat yang sudah mulai membasahi wajahnya. Tapi, aku tidak mau terlihat jika aku peduli dengan dia. Yaa, aku tidak mau dia tahu jika aku PEDULI dengan dia.
Waktu hampir menunjukan pukul 16.30 itu pertanda kekasih barunya akan segera tiba. Aku terus mempercepat jalan dan melihat kanan kiri mencari keberadaan para calo tiket. Tapi tetap tidak ada satupun calo tiket yang harganya bersahabat. Disaat itu pula, kekasih barunya menelfon dan menanyakan keberadaannya. Jelas aku kesal, karena itu pertanda kebersamaan aku dan dia akan segera selesai. Kemudian aku mengantarkannya menuju salah satu Mall yang berada disekitar GBK, namun tanpa selembar tiket.
Kami berdua berpisah. Dan pada saat itu rasanya aku ingin sekali membawa pergi dia sejauh mungkin, hingga kekasih barunya tak bisa menemukannya. Tapi itu mustahil, karena aku tahu jika dia tidak lagi memiliki perasaan seperti dulu. GBK semakin gelap, dan antrian pintu masuk makin tak karuan. Akupun terus bertanya pada diriku sendiri "dia udah masuk dan duduk manis, belum yaa?". Aku terus bergelut dengan ratusan penonton yang ingin masuk melalui pintu VII. Dan setelah sampai pada tempat duduk yang nyaman, aku coba memutar pandangan mata kesetiap tempat duduk untuk mencari keberadaannya. Namun, sangat sulit karena belum tentu aku dan dia berada dalam satu sektor yang sama.
Aku senang GBK bisa mempertemukan aku dan dia kembali. Tapi aku sedih GBK juga memisahkan aku dan dia kembali.
Dan aku akan terus mencintai dia, meskipun itu Gak Penting-Penting Amat menurut dia.
Jumat, 30 September 2011
Sebatas Tahu Sama Tahu
Empat tahun yang lalu kita pernah saling mengutarakan isi hati kita masing masing. Namun, kita tak pernah menjalin hubungan yang spesial. Ya, hanya sebatas tahu sama tahu.
Banyak cerita yang tidak kita ketahui karena besarnya rasa munafik kita. Ya, munafik untuk saling memiliki. Dan sekarang kita hadir dan bertemu melalui sebuah media, dimana media tersebut memang sangat mudah untuk melakukan komunikasi jarak jauh. Kita terakhir bertemu dibulan Februari, tepatnya disebuah Rumah Sakit.
Kau memulai sebuah pembicaraan, kau mulai sebuah pertanyaan. Aku lanjutkan pembicaraan, aku jawab pertanyaan. Pertanyaan itu pun hanya sekedar saling ingin mengetahui bagaimana hubungan kita dengan masing masing pasangan kita.
Kau terlebih dulu selesai, aku belum lama selesai. Kau bicara tentang jodoh. Kau bilang "kalo emang jodoh gak kemana".
Sekarang aku pun tak akan pernah tahu. Apa mungkin semua rasa yang dulu kita saling tahu sama tahu, masih tetap ada? Ya, meskipun itu hanya sekecil debu. Debu yang mudah hilang jika tertiup angin, debu yang mudah hinggap jika lama terdiam. Terdiam dari absurdnya suasana hati.
Aku tawarkan kau sebuah kopi, dan aku memilih beer. Kau bilang kita bertolak belakang. Aku bilang "iya, kita memang selalu bertolak belakang". Dan kau hanya berkata "sempet sempetnya".
Dulu kita tahu sama tahu. Dan kini? Hanya diri kita masing masing yang tahu. Sampai sekarang cerita kita hanya sebatas misteri. Misteri dari sebuah ke munafikan.
Banyak cerita yang tidak kita ketahui karena besarnya rasa munafik kita. Ya, munafik untuk saling memiliki. Dan sekarang kita hadir dan bertemu melalui sebuah media, dimana media tersebut memang sangat mudah untuk melakukan komunikasi jarak jauh. Kita terakhir bertemu dibulan Februari, tepatnya disebuah Rumah Sakit.
Kau memulai sebuah pembicaraan, kau mulai sebuah pertanyaan. Aku lanjutkan pembicaraan, aku jawab pertanyaan. Pertanyaan itu pun hanya sekedar saling ingin mengetahui bagaimana hubungan kita dengan masing masing pasangan kita.
Kau terlebih dulu selesai, aku belum lama selesai. Kau bicara tentang jodoh. Kau bilang "kalo emang jodoh gak kemana".
Sekarang aku pun tak akan pernah tahu. Apa mungkin semua rasa yang dulu kita saling tahu sama tahu, masih tetap ada? Ya, meskipun itu hanya sekecil debu. Debu yang mudah hilang jika tertiup angin, debu yang mudah hinggap jika lama terdiam. Terdiam dari absurdnya suasana hati.
Aku tawarkan kau sebuah kopi, dan aku memilih beer. Kau bilang kita bertolak belakang. Aku bilang "iya, kita memang selalu bertolak belakang". Dan kau hanya berkata "sempet sempetnya".
Dulu kita tahu sama tahu. Dan kini? Hanya diri kita masing masing yang tahu. Sampai sekarang cerita kita hanya sebatas misteri. Misteri dari sebuah ke munafikan.
Sabtu, 03 September 2011
Cinta Sejati itu Ada?
Terkadang manusia terlalu naif dalam mendefinisikan arti cinta.
Manusia sering kali terjerumus akan makna cinta yang sempit, bahkan bisa dikatakan dangkal.
Tidak selamanya cinta itu harus bersama sama dengan orang yang selalu dipuja.
Karena cinta bukanlah seperti lembaga pengadilan yang harus selalu dibuktikan.
Semua orang selalu menginginkan cinta yang sempurna. Tapi menurut saya tak ada cinta yang sempurna di dunia ini. cinta yang sempurna hanyalah milik Tuhan. kata kata manis selalu terucap dikala manusia sedang dalam euforia percintaannya. selalu mengatakan "aku bisa menerima kamu apa adanya" tapi lihatlah ketika waktu terus berjalan, semua itu bisa berubah dalam sekejap, dan kebebasa tak akan ada lagi. Bahkan egoisme akan menjadi momok yang sangat menakutkan. akal dan logika tak bisa lagi jalan secara bersamaan. Bahkan kita bisa lebih takut terhadap kekasih pujaan kita, ketimbang orang tua kita yang pasti akan selalu ada dikala kita sedih ataupun senang.
Apa kalian rela melepas kebebasan anda demi sebuah kecintaan terhadap pujaan hati?
menurutku itu hal yang bodoh. mungkin untuk waktu yang singkat kalian akan mengatakan "rela".
Tapi percayalah, lambat laun anda akan merindukan kebebasan. tapi bukan berarti kebebasan yang jauh dari kontrol hal positif.
Dan sekali lagi saya katakan cinta itu tidak selamanya harus dibuktikan. Tapi cukup dengan diresapi, dirasakan, dan dipahami. cinta yang tulus itu akan muncul dengan sendirinya. Tanpa harus selalu dibuktikan, lambat laun bukti cinta itu akan muncul dengan sendirinya.
Manusia sering kali terjerumus akan makna cinta yang sempit, bahkan bisa dikatakan dangkal.
Tidak selamanya cinta itu harus bersama sama dengan orang yang selalu dipuja.
Karena cinta bukanlah seperti lembaga pengadilan yang harus selalu dibuktikan.
Semua orang selalu menginginkan cinta yang sempurna. Tapi menurut saya tak ada cinta yang sempurna di dunia ini. cinta yang sempurna hanyalah milik Tuhan. kata kata manis selalu terucap dikala manusia sedang dalam euforia percintaannya. selalu mengatakan "aku bisa menerima kamu apa adanya" tapi lihatlah ketika waktu terus berjalan, semua itu bisa berubah dalam sekejap, dan kebebasa tak akan ada lagi. Bahkan egoisme akan menjadi momok yang sangat menakutkan. akal dan logika tak bisa lagi jalan secara bersamaan. Bahkan kita bisa lebih takut terhadap kekasih pujaan kita, ketimbang orang tua kita yang pasti akan selalu ada dikala kita sedih ataupun senang.
Apa kalian rela melepas kebebasan anda demi sebuah kecintaan terhadap pujaan hati?
menurutku itu hal yang bodoh. mungkin untuk waktu yang singkat kalian akan mengatakan "rela".
Tapi percayalah, lambat laun anda akan merindukan kebebasan. tapi bukan berarti kebebasan yang jauh dari kontrol hal positif.
Dan sekali lagi saya katakan cinta itu tidak selamanya harus dibuktikan. Tapi cukup dengan diresapi, dirasakan, dan dipahami. cinta yang tulus itu akan muncul dengan sendirinya. Tanpa harus selalu dibuktikan, lambat laun bukti cinta itu akan muncul dengan sendirinya.
Langganan:
Postingan (Atom)